FORHATI Nasional Gelar TOT Pengelolaan Sampah, Dorong Perempuan Jadi Penggerak Gerakan Hijau

Pelatihan hybrid menghadirkan narasumber dari IPB, praktisi lingkungan, dan BRIN; peserta sepakati kunjungan lapangan, penjajakan teknologi, dan proyek percontohan.

Forum HMI-Wati (FORHATI) Nasional menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) Nasional Pengelolaan Sampah pada Kamis (17/9/2026) di Sekretariat HKTI, Kementerian Pertanian RI, Ragunan, Jakarta Selatan. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pukul 09.00–13.30 WIB ini merupakan bagian dari rangkaian Gerakan Hijau FORHATI dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026 dengan tema “Perempuan Bergerak, Aksi Nyata untuk Iklim Indonesia.”

TOT diikuti oleh FORHATI Nasional, FORHATI Wilayah, FORHATI Daerah, FORHATI Jaya, organisasi perempuan, serta masyarakat umum dari berbagai daerah yang bergabung secara luring maupun daring. Secara luring, kegiatan dihadiri Koordinator Presidium FORHATI Nasional beserta jajaran pengurus dan perwakilan FORHATI Jaya.

Koordinator Presidium FORHATI Nasional, Dra. Anita Ariyani, menegaskan bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari, terutama di lingkungan rumah tangga.

“Gerakan Hijau FORHATI kami dorong sebagai gerakan yang tidak berhenti pada kampanye, tetapi dilanjutkan dengan pengetahuan dan aksi nyata. Melalui TOT ini, kami berharap peserta dapat menjadi penggerak di wilayah dan daerah masing-masing serta meneruskan edukasi pengelolaan sampah kepada keluarga, komunitas, dan masyarakat,” ujarnya.

Dari Pilah Sampah hingga Ekonomi Sirkular

Peserta mendapat pembekalan dari tiga narasumber. Dosen IPB, Dr. Meti Ekayani, S.Hut., M.Sc., IPM., membawakan materi “Pilah-Pilih Sampah: Langkah Awal Menuju Daur Ulang dan Ekonomi Sirkular.” Ia menekankan bahwa persoalan sampah tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga berdampak sosial dan ekonomi. Sampah yang tidak dikelola menambah beban masyarakat dan pemerintah, sedangkan sampah yang dikelola dengan baik justru dapat kembali menjadi sumber daya.

Meti mencontohkan budidaya maggot di Desa Cibanteng. Sampah organik dijadikan pakan maggot yang menghasilkan biomassa untuk pakan ikan, sementara sisa prosesnya berupa kasgot (bekas maggot) dimanfaatkan sebagai pupuk. Menurutnya, praktik ini menunjukkan pentingnya sistem pengelolaan yang terintegrasi, mulai dari pemilahan di rumah tangga hingga pemanfaatan kembali hasil olahan.

Eco-Enzyme dan Pakan Ternak dari Sisa Dapur

Praktisi lingkungan Oki Pulungan menyampaikan materi “Pilah, Olah, Manfaatkan: Aksi Nyata Mengelola Limbah Rumah Tangga.” Ia berbagi pengalaman mengolah sampah organik menjadi kompos, pakan ayam, hingga eco-enzyme yang dapat diterapkan di rumah tangga maupun komunitas.

Untuk membuat eco-enzyme, Oki memperkenalkan komposisi 1 bagian gula merah, 3 bagian kulit buah atau sayuran, dan 10 bagian air, yang difermentasi selama sekitar 90 hari. Cairan hasil fermentasi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kebersihan dan perawatan tanaman. Praktik semacam ini, kata dia, sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Teknologi BRIN untuk Sampah Organik dan Plastik

Materi ketiga, “Dari Plastik Bekas Menjadi Bernilai: Membangun Rantai Daur Ulang Plastik,” disampaikan Andi Irman, M.M., TA Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia memperkenalkan sejumlah teknologi pengolahan sampah untuk skala rumah tangga, komunitas, hingga perkotaan.

Salah satunya adalah LAHSAMOR berlisensi BRIN, teknologi untuk mengolah sampah organik langsung di sumbernya yang tersedia dalam beberapa kapasitas. Pengalaman penggunaannya di lingkungan sekolah dinilai membantu pengolahan sampah organik secara lebih praktis. Andi juga memperkenalkan teknologi pirolisis yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar, meski penerapannya membutuhkan investasi dan kesiapan teknis yang lebih besar.

Bank Sampah dan Peluang Usaha

Dalam sesi diskusi, peserta dari berbagai daerah berbagi pengalaman lokal tentang pengomposan, eco-enzyme, pakan ternak dari sampah organik, hingga pengelolaan bank sampah. Sejumlah isu mengemuka, antara lain pentingnya membiasakan pemilahan sejak dari rumah, edukasi yang konsisten, tantangan menjaga keberlanjutan bank sampah, peluang usaha berbasis pemanfaatan sampah, serta perlunya dukungan kebijakan dan kolaborasi antara masyarakat, organisasi, pemerintah, dan lembaga riset.

Diskusi juga menegaskan bahwa sampah tidak selalu harus dipandang sebagai barang buangan. Dengan pemilahan dan pengolahan yang tepat, sampah dapat menjadi bahan baku bernilai ekonomi dan berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat.

Tindak Lanjut: Dari Kunjungan Lapangan hingga Proyek Percontohan

TOT ditutup dengan sejumlah kesepakatan tindak lanjut. Materi dan kurikulum pelatihan akan dibagikan kepada peserta untuk dikembangkan di daerah masing-masing. FORHATI juga akan mendorong pertukaran praktik baik antardaerah serta menjajaki kunjungan lapangan ke lokasi praktik pengelolaan sampah yang dikelola Oki Pulungan di Depok.

Selain itu, FORHATI Nasional akan menindaklanjuti komunikasi dengan BRIN dan pemegang lisensi teknologi terkait untuk menjajaki kolaborasi, termasuk kemungkinan pengembangan LAHSAMOR di lingkungan FORHATI. Peluang proyek percontohan pengolahan sampah organik dan pirolisis di DKI Jakarta serta beberapa daerah lain juga akan dibahas. Tak kalah penting, pemilahan sampah akan dijadikan kebiasaan dalam setiap kegiatan organisasi FORHATI, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Rangkaian Gerakan Hijau hingga Oktober

TOT Pengelolaan Sampah merupakan salah satu rangkaian Gerakan Hijau FORHATI yang berlangsung hingga Oktober 2026. Kegiatan lainnya meliputi podcast peringatan Hari Sumpah Pemuda, Business Plan Competition “Inovasi Pengolahan Sampah Rumah Tangga”, serta aksi penanaman mangrove.

Melalui Gerakan Hijau, FORHATI mengajak perempuan, generasi muda, organisasi masyarakat, komunitas, dan masyarakat umum untuk mengambil bagian dalam aksi nyata menjaga lingkungan dan meningkatkan kepedulian terhadap perubahan iklim di Indonesia.